
Oleh Cynthia Andriani
University of Auckland, New Zealand
Memasuki 2026, lonjakan harga bahan baku plastik (seperti PE, PP, PS) dilaporkan mencapai 40-100% pada Maret-April 2026 (lbs.id, kompas.id, umkm.go.id). Lonjakan ini menyingkap dua persoalan mendasar yaitu: (1) tingginya ketergantungan konsumen dan industri Indonesia terhadap plastik, serta (2) belum tersedianya kapasitas produksi bahan baku plastik yang mandiri sehingga masih bergantung terhadap komoditas impor. Ketergantungan tersebut membuat rantai pasok sangat rentan terhadap gejolak global: gangguan di jalur strategis perdagangan dunia dapat mengganggu pasokan petrokimia, sementara Indonesia masih mengimpor sekitar 50% kebutuhan bahan baku plastik melalui kawasan tersebut.
Plastik menyumbang sekitar 30% dari total konsumsi material untuk kemasan pangan di Indonesia (OECD, 2022), dan diperkirakan 50% produk makanan dan minuman olahan di retail dikemas dengan plastik (DS Smith). Keunggulan fungsional plastik menjelaskan dominasinya: (1) harga bahan baku yang relatif murah; (2) fleksibilitas bentuk dan kemudahan modifikasi; (3) sifat penghalang (barrier) yang baik terhadap air, COâ‚‚, dan Oâ‚‚ sehingga menjaga mutu produk serta kepatuhan terhadap legislasi; serta (4) ringan sehingga mengurangi biaya logistik (Piringer, 2000). Di sisi lain, tidak semua jenis plastik dapat didaur ulang atau terurai alami. Kondisi ini diperburuk oleh terbatasnya infrastruktur pengelolaan limbah yang memperparah akumulasi sampah meski kampanye “sustainable packaging” semakin gencar. Akibatnya, sebagian besar plastik berujung sebagai limbah yang sulit diolah yang berdampak pada aspek sosio-ekonomi dan kesehatan manusia. Selain itu, aspek keamanan dan mutu pangan terkait penggunaan plastik perlu mendapat perhatian serius, seperti potensi migrasi mikroplastik ke dalam makanan, interaksi dengan bahan makanan tinggi lemak, serta keberadaan aditif yang bersifat reaktif (Najahi et al.,2025).
Kenaikan harga biji plastik bukan sekadar masalah produsen; biaya kemasan yang melonjak mendorong peningkatan biaya produksi, penurunan margin, dan pada akhirnya mempengaruhi harga jual produk. Konsumen dihadapkan pada pilihan produk antara membayar harga lebih tinggi atau mengalami penurunan daya beli. Bagi pelaku UMKM dan produsen skala kecil, tekanan ini bisa sangat berat. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengulas alternatif strategi untuk mengatasi kenaikan biaya bahan baku kemasan: mulai dari redesain kemasan, substitusi bahan (material kemasan alternatif dan bioplastik), perbaikan rantai pasok serta pengembangan kapasitas produksi material kemasan lokal, hingga praktik pengelolaan limbah dan “circular economy” yang dapat mengurangi ketergantungan impor.
Plastik merupakan material polimer yang memiliki beragam karakteristik tergantung pada komponen penyusunnya. Umumnya plastik diproduksi dari biji plastik (pellet) melalui pemanasan dan pelelehan, lalu dibentuk melalui proses pencetakan (molding) dengan metode seperti penyuntikan (injection molding), ekstrusi (extruding), dan peniupan (blow molding).
Secara umum, plastik untuk kemasan pangan dapat dikategorikan menjadi tujuh jenis yaitu:
PET (Polyethylene Terephthalate)
untuk botol kemasan air, botol soda, cup/tube/kontainer margarin, salad, selai; dengan karakteristik penampakan jernih, kuat, dan ringan.
HDPE (High-Density Polyethylene)
untuk kemasan jerigen, botol, dan kontainer untuk produk susu dan produk lainnya; dengan karakteristik dapat didaur ulang dan tahan lama.
PVC (Polyvinyl Chloride)
sering digunakan sebagai plastik pembungkus (cling wrap) transparan tipis yang elastis untuk membungkus bahan segar seperti daging dan keju.
LDPE (Low-Density Polyethylene)
merupakan jenis material yang lembut dan fleksibel, umum pada kantong roti, botol tekan, dan cling film.
PP (Polypropylene)
merupakan jenis plastik yang tahan panas dan tahan lama, standar untuk wadah makanan yang aman untuk dipanaskan di microwave.
PS (Polystyrene)
sering digunakan untuk barang sekali pakai seperti wadah makanan cepat saji, gelas kopi, dan peralatan makan.
Plastik lainnya (Others)
termasuk polycarbonate (PC) dan polylactic acid (PLA), yang sering digunakan sebagai bahan alternatif dan bioplastik.
Strategi menghadapi krisis kemasan pangan berbasis plastik
Berikut tiga strategi alternatif yang dirumuskan untuk menghadapi krisis plastik, disusun berdasarkan risiko dan dampak berjangka.
1. Strategi efisiensi: low-risk and short-term
Untuk merespons krisis plastik dalam jangka pendek dengan risiko minimal, langkah paling realistis adalah mengganti kemasan plastik dengan material non‑plastik siap pakai yang secara komersial telah umum digunakan. Substitusi penggunaan plastik dapat dilakukan dengan menggunakan material lain yang memiliki fungsi serupa dan memenuhi persyaratan keamanan pangan. Sebagai contoh, produk minuman (cairan) dapat dikemas dalam botol kaca atau kemasan karton aseptik seperti Combibloc atau Tetra Pak, termasuk inovasi seperti paper bottle yang kini semakin populer (Gambar 1). Untuk produk berbentuk bubuk seperti tepung dan bumbu, kemasan kantong kertas berlapis komposit ramah lingkungan (bio-coated paper)dapat menjadi alternatif yang lebih efisien; sementara untuk pangan siap saji, kertas berlapis (kertas laminasi) yang memenuhi standar pangan dapat digunakan sebagai pengganti pembungkus plastik. Pendekatan ini memungkinkan produsen tetap menjaga distribusi produk tanpa terlalu bergantung pada plastik, sekaligus mengurangi dampak kenaikan biaya dan risiko pasokan

`Selain itu, efisiensi penggunaan plastik dapat dicapai dengan menjual produk dalam porsi lebih besar (bulk), sehingga jumlah kemasan per satuan produk berkurang. Pendekatan ini juga mendorong konsumen melakukan isi ulang (refill) menggunakan wadah yang sama sehingga kemasan dapat dipakai berulang kali. Model seperti ini sudah diterapkan oleh The Source Bulk Foods, yang mengedukasi pelanggan berbelanja tanpa plastik melalui sistem refill. Konsep serupa dapat diterapkan pada komoditas seperti minyak goreng, beras, gula, sirup, kecap, tepung, dan rempah, dengan catatan standar kebersihan dan keamanan pangan terpenuhi (serupa dengan konsep penggunaan galon air mineral). Implementasi gagasan ini membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai seperti jaringan tempat refill, fasilitas sanitasi, dan logistik pengemasan ulang, serta insentif bagi produsen dan konsumen.
2. Strategi material alternatif (bio-based): medium-high risk
Sebagai solusi jangka panjang dengan dampak yang lebih signifikan, pengembangan material plastik yang lebih ramah lingkungan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku plastik berbasis fosil dan menekan dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu solusi yang berkembang adalah bioplastik berbasis hayati yang dapat terurai secara hayati, misalnya Polylactic Acid (PLA) (Gambar 2), Polyhydroxyalkanoates

(PHA), serta plastik berbasis pati, selulosa, lignin, kitosan, dan rumput laut (Moshood et al. 2022).
Selain itu, kemasan yang dapat dimakan (edible packaging) (Gambar 3) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif, khususnya untuk produk sekali pakai. Konsep ini mengacu pada kemasan yang dapat dimakan atau mudah terurai dalam kondisi tertentu, misalnya kemasan larut air (water- soluble packaging), sehingga dapat mengurangi limbah. Secara komersial, konsep ini telah diaplikasikan pada produk kembang gula (confectionery) hingga produk pembersih, seperti kapsul deterjen dan sabun, menggunakan film berbahan dasar rumput laut, gelatin, atau pati. Meskipun kemasan edible dan kemasan larut air dapat mengurangi limbah secara signifikan, namun pada penerapannya masih menghadapi beberapa tantangan seperti interaksi dengan bahan pangan, barrier properties yang umumnya rendah terhadap kelembapan, umur simpan produk, serta biaya produksi yang relatif tinggi dibandingkan dengan plastik konvensional.
Salah satu biomaterial yang sedang banyak dikembangkan untuk kemasan adalah miselium jamur (mushroom).

Biomaterial ini memiliki keunggulan tahan air, panas, biodegradable, dan dalam pembuatannya tidak menggunakan plasticizers apa pun. Kemasan berbahan miselium jamur dapat dibentuk sesuai kebutuhan baik sebagai kemasan primer maupun sekunder. Beberapa perusahaan telah mengembangkan kemasan berbasis biomaterial jamur namun memang belum banyak yang mengarahkannya untuk industri kemasan pangan (mushroom material, grown.bio). Hal ini sekaligus memberikan kesempatan ide bisnis baru dalam pengembangannya.
3. Strategi desain ulang produk:
transformasi sistem pengemasan, inovasi tidak hanya perlu difokuskan pada bahan, tetapi juga pada desain dan bentuk produk itu sendiri. Pengembangan produk yang lebih efisien, misalnya dalam bentuk terkonsentrasi, padat, atau unit-dose (satuan dosis tunggal), dapat secara signifikan mengurangi kebutuhan kemasan berlapis. Dengan memadatkan produk ke dalam bentuk padat sesuai takaran penggunaan, produsen dapat menghilangkan kebutuhan akan kemasan kecil sekali pakai untuk pembagian porsi, yang selama ini banyak bergantung pada plastik.
Perubahan bentuk (reformulasi) juga membuka peluang penghematan kemasan. Sebagai contoh, produk cair seperti sampo atau sabun dapat dikembangkan menjadi bentuk padat (batang (bar)) atau lembaran tipis (sheet) berbasis kertas, sehingga lebih mudah disimpan dalam penyimpanan massal (bulk), lebih ringan didistribusikan, dan memiliki umur simpan yang baik tanpa perlu kemasan plastik berlapis (Gambar 4). Pendekatan serupa juga dapat diterapkan pada produk lain seperti minuman instan atau bumbu, yang dapat direformulasi menjadi bentuk tablet, kapsul yang larut, atau konsentrat. Strategi ini tidak hanya mengurangi penggunaan plastik, tetapi juga meningkatkan efisiensi logistik (lebih ringan dan menghemat ruang), menekan biaya distribusi, serta mendukung model refill dan sistem bulk. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada penelitian formulasi, penerimaan konsumen, serta penyesuaian proses produksi agar kualitas dan keamanan produk tetap terjaga.

Krisis plastik di Indonesia, dipicu lonjakan harga 2026, lebih mencerminkan kelemahan sistem dan bukan sekadar masalah bahan. Solusi multilayer diperlukan: efisiensi dan substitusi jangka pendek (bulk/refill), pengembangan bioplastik/edible jangka menengah, serta desain ulang produk jangka panjang, semuanya didukung oleh investasi kapasitas lokal, riset formulasi, infrastruktur, dan kebijakan untuk ekonomi sirkular.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Angeline Aprilina Arifin dan Mada Triandala Sibero atas kontribusi teknis yang memperkaya tulisan ini.
Referensi
Piringer, O.G., Plastic Packaging Materials for Food : Barrier Function, Mass Transport, Quality Assurance, and Legislation. 2000, Weinheim ;: Wiley-VCH.
Najahi, H., et al., Plastic pollution in food packaging systems: impact on human health, socioeconomic considerations and regulatory framework. Journal of Hazardous Materials Advances, 2025. 18: p. 100667.
Kale, G., et al., Compostability of bioplastic packaging materials: An overview. Macromolecular Bioscience, 2007. 7(3): p. 255-277.
Moshood, T.D., et al., Sustainability of biodegradable plastics: New problem or solution to solve the global plastic pollution? Current Research in Green and Sustainable Chemistry, 2022. 5: p. 100273.

