
Gelaran ke-3 Indonesia Food Safety Leadership Forum (IFSLF) 2026 di Bogor (11/6/2026) menegaskan bahwa keamanan pangan adalah investasi strategis, bukan sekadar beban biaya. Menilik data WHO per Juni 2026, pangan tercemar menyebabkan 866 juta orang sakit dan 1,52 juta kematian setiap tahunnya. Sedangkan bagi industri pangan, dampaknya nyata mulai dari product recall, tuntutan hukum, hingga hancurnya reputasi bisnis. Untuk memitigasi risiko tersebut, forum menekankan pentingnya membangun keamanan pangan berkelanjutan dari hulu ke hilir melalui dua pilar utama yakni Food Safety Culture dan Hygienic Design.

Aplikasi teknologi mutakhir tidak akan optimal tanpa komitmen perilaku. Keynote speaker Prof. Purwiyatno Hariyadi dari SEAFAST Center IPB menggarisbawahi bahwa budaya keamanan pangan (food safety culture) yang melibatkan manajemen hingga semua pekerja adalah kunci utama. Selain itu, keamanan pangan tidak bisa hanya ditangani oleh satu lembaga atau satu sektor saja. Diperlukan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri, dan konsumen dengan dukungan lintas sektor melalui pendekatan One Health.
Salah satu pembicara, Jamal Zamrudi S.TP., MP, Founder & Director Catalyst Consulting, mengungkap melalui investasi pada desain higienis sejak tahap perencanaan, industri pangan dapat mengeliminasi beban biaya operasional dan membangun sistem keamanan pangan yang berkelanjutan. Merujuk prinsip European Hygienic Engineering and Design Group (EHEDG), desain higienis bukanlah sekadar pelengkap Prerequisite Programs (PRP).

Aspek hygienic design atau desain higienis memegang peranan yang sangat fundamental. Salah satu elemen kritis dari desain ini yang sering kali tidak kasat mata, namun menentukan stabilitas proses dan keamanan pangan (food safety), adalah sistem tata udara atau HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning). Ir. Ade Maulana ST., M.M.T, Director of Shitshudo Thermal Engineering mengungkap lingkungan tropis seperti di Indonesia menjadi tantangan sendiri bagi industri pangan. Udara luar dengan temperatur rata-rata 35°C dan kelembapan relatif (Relative Humidity/RH) 70% dapat mengandung hingga 24 gram air per meter kubik bisa menjadi sumber kehidupan utama pertumbuhan mikroba secara masif. Oleh karena itu, pengaturan HVAC harus disesuaikan secara spesifik berdasarkan karakteristik produk (product-driven design), bukan sekadar mengikuti standar.

